Terimalah kelebihan dan kekurangan


Telitilah, pikirkanlah tentang orang-orang hebat itu. Yang mengukir hidupnya dengan tinta yang selalu nyata dalam lembar-lembar sejarah. Telitilah sekali lagi dari sisi yang berbeda …

Saudaraku,

Kepandaian, keulungan, kehebatan, keluarbiasaan seseorang, bagaimanapun . tetaplah dia manusia. Kita mungkin terpana dengan kehebatannya yang jarang dimiliki orang lain. Kita mungkin juga terkagum-kagum dengan kebisaannnya yang tak banyak dipunyai orang selainnya. Tapi, bagaimanapun ia tetaplah manusia.

Ada orang yang Allah swt berikan kemampuan berpikir dan menganalisa begitu dalam dan tajam dalam suatu masalah, tapi ia hampir tak mampu berbicara dan menyampaikan pandangannya dengan baik. Atau, kebalikannya, ada orang yang begitu mahir menyampaikan pikirannya, sementara ketajaman pikiran dan analisanya bisa dikatakan standar saja. Ada orang yang terkenal sangat murah hati, mudah memberi dan penuh belas kasih terhadap orang yang memerlukannya. Tapi di sisi lain, ia penakut, penuh khawatir terhadap kemungkinan, dan cenderung memilih diam ketimbang melakukan sesuatu yang baik tapi berisiko. Ada orang yang kaya dan memiliki harta banyak, tapi ternyata ia mempunyai saudara yang miskin. Atau, ada orang yang menghapal AI Qur’an dan bahkan banyak menghapal hadits-hadits Rasulullah saw, tapi ia tak memiliki obsesi atau semangat berdakwah. Sementara ada orang yang semangat dan obsesi dakwahnya begitu tinggi, tapi ia minim hafalan Al Qur’annya dan ilmu keislamannya. Apa yang kita pahami dari semua realitas ini?

Saudaraku,

Mari kita perhatikan sisi-sisi hidup seperti itu, pada diri para ulama dan salafushalih. Adalah Imam Jalaluddin AI Mahally seorang tokoh besar bermadzhab Syafi’i. Dialah yang menulis kitab tafsir terkenal berjudul “AI Jalalain”. Tapi tahukah kita, Imam Jalaluddin dalam riwayat tentangnya disebutkan sebagai ulama yang lemah dalam hafalan? Disebutkan, beliau berupaya menghapal satu bagian dari suatu buku, dan itu memerlukan waktu lama sekali. Sampai satu pekan lamanya, bahkan belum bisa menghapal satu lembar pun dari buku itu. Bahkan, karena upaya dan keseriusannya menghapal, ia pun mengalami sakit demam dan mengeluh pusing yang sangat di kepalanya. Ia pun lalu menyatakan gagal menghapal bagian buku yang ingin dihafalnya.

Ada pula, Imam-As Suyuthi rahimahullah. Siapakah yang tak pernah mendengar nama ulama yang banyak menganalisa hadits-hadits Rasulullah saw ini? Ternyata, Imam Suyuthi adalah orang yang sangat lemah dalam hitung menghitung. Atau, tokoh sekaliber Imam Ibnu Taimiyah yang pakar dalam ilmu hadits fiqih, mengajar, menyampaikan fatwa, sejak beliau masih berusia 17 tahun. Bahkan Ibnu Taimiyah juga mendalami ilmu tafsir dan beragam ilmu Islam lainnya. Tapi, ia tidak memiliki ilmu qiraat atau ilmu pembacaan Al Qur’an yang berbeda-beda.

Saudaraku,

Ada kisah lucu terkait hal ini, tentang Syaikh Khudhari Bek rahimahullah. Ia seorang ulama yang menulis banyak kita tentang sejarah Rasulullah saw, sejarah para khulafa Ar Rashidin, sejarah Daulau Umawiyah dan Abbasiyah. Ali Thanthawi memilih kisah tentang Khudari Bek, katanya: “Syaik Khudari di akhir-akhir usianya mengalami sakit. Ia menduga bahwa di dalam usus di perutnya terdapat ular. Syekh Khudari berusaha melakukan konfirmasi tentang dugaan itu kepada dokter. Ia juga bertanya ke sejumlah ulama. Tapi umumnya mereka segan menerangkan penyakit yang diderita Syekh Khudari. Dengan maksud bergurau, mereka mengatakan, “di dalam ususnya ada sarang cacing, tidak mungkin sarang ular.” Tapi Syekh Khudari tidak percaya. Ia pun mencari ahli kedokteran yang kebetulan ahli kejiwaan. Setelah menyampaikan kisah dan keluhannya, sang dokter berusaha menenangkannya dengan menjadikannya tidak sadar. Setelah sadar, sang dokter meletakkan ular kecil di hadapannya dan menggambarkan ular seperti itulah yang selama ini menjadikannya sakit. Melihat ular itu, air muka Syekh Khudori berseri-seri. Tubuhnya menjadi segar dan ia merasa sehat bahkan bisa berjalan dan berloncat. Setelah sebelumnya ia selalu mengeluh sakit. Setelah itu, Syakh Khudori tidak pernah sakit lagi (Shuwar wa Khowatir Ii syaikh Thanthawi 17-26)

Saudaraku,

Kita umumnya pernah mengenal nama Dale Carnegie. Ia tercatat telah memberikan sebanyak 150 ribu pidato dalam partisipasinya di berbagai program pendidikan. Ia mengembangkan kursus keterampilan dasar hubungan antar manusia. Salah satu prinsipnya yang terkenal adalah: Lihatlah sesuatu dari perspektif orang lain. Berikan penghargaan dengan jujur dan tulus serta kembangkan empati. Tapi ternyata Dale Carnegie bukan sosok yang diianggap sukses membina komunikasi di dalam rumah tangganya. Pernikahan pertamanya berakhir dengan perceraian, lalu ia menikah lagi yang berakhir dengan perceraian.

Saudaraku,

Apa yang kita pelajari dari semua hal ini? Kepandaian dan keluarbiasaan di satu sisi, yang menyimpan aib dan kekurangan di sisi lain. Kehebatan yang mengagumkan banyak orang, yang menutupi sisi kelemahan dan mengherankan banyak orang. Semuanya menunjukkan dan meneguhkan bahwa tak ada yang sempurna dalam hidup yang diciptakan Allah swt. Tidak ada kesempurnaan, keluarbiasaan, kehebatan sejati kecuali milik Allah swt.

Ketidaksempurnaan ini adalah milik kita semuanya. Dan itu menyebabkan tak satupun dari kita layak menyandang rasa sombong atas prestasi, pendapat dan pemikiran atau apapun. Itu sebabnya juga, Allah swt meski menempatkan Rasulullah saw di tempat yang sangat mulia di hati kita, namun Rasulullah saw juga bersabda, “Innii basyarun ansaa kamaa tansauun”, aku ini adalah manusia yang bisa lupa sebagaimana kalian juga lupa.

Barangkali, hikmah lain yang penting juga kita sadari adalah, tidak begitu mudah mengagungkan sosok orang secara berlebiihan, sebagaimana tidak gampang menjatuhkan vonis yang merendahkan dan menjatuhkan orang yang semula dikenal mempunyai kelebihan. Menerima, bahwa seorang yang dimudahkan Allah swt memiliki sebuah keistimewaan, tetap memiliki kekurangan, yang tidak menghapus keistimewaannya itu.

Saudaraku,

Pujilah Allah swt atas karunia-Nya yang luar biasa kepada kita. Dan bertanyalah pada diri sendiri, apa yang sudah kita tulis di lembar-lembar hidup kita sekarang?

Tarbawi Edisi: 233, 29 Juli 2010

Terimalah Kelebihan dan Kekurangan

Oleh: Ustadz M. Lili Nur Aulia

Author: titosuharto

Cuma manusia yang tak akan pernah berhenti untuk memperbaiki diri. Dan cuma bisa bersandar padaNya,,, InsyaAllah manfaat. New spirit, new soul, and new heart.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s